TERAPI BOTOX

 

 

Latar belakang

 

Pada tahun 1970, dr. Alan Scott secara tidak sengaja menemukan bahwa substansi protein yang disintesa dari mikrobakteria Clostridium botulinum dapat memperbaiki gerak otot bola mata pada kera uji coba yang bermata juling (strabismus). Sejak itu selama  1 dekade substansi protein tersebut marak digunakan ahli-ahli penyakit mata untuk memperbaiki kelainan otot-otot bola mata dengan hasil yang cukup memuaskan.

 

Dengan mencermati dan memanfaatkan analogi efek substansi protein mikrobakteria Clostridium botulinum tersebut (selanjutnya disebut sebagai Botox) yang bersifat melemahkan otot, beberapa ahli bedah estetik sejak tahun 1981 mulai mengaplikasikan Botox untuk mengatasi masalah estetis pengenduran kulit dan kerutan-kerutan wajah. Setelah terkumpul bukti-bukti klinis selama 1 dekade, pada tahun 1992 terbit laporan ilmiah pertama atas kasus-kasus yang berhasil ditolong dengan penyuntikkan Botox. Akhirnya pada tahun 2002, badan pengawasan makanan dan obat di AS (Food & Drug Association, FDA) meluluskan evaluasinya dan menerbitkan sertifikasi keamanan untuk pemakaian zat ini sebagai salah satu pilihan terapi menghilangkan garis-garis kerutan penuaan di daerah dahi dan bagian atas pangkal hidung.

 

Masalah yang dapat dibantu dengan injeksi Botox

  1. Masalah estetis akibat kerutan penuaan
  2. Masalah estetis akibat kelebihan produksi keringat (hyperhydrosis)
  3. Masalah medis non-estetis: sakit kepala dan migraine

 

Mekanisme kerja Botox terkait masalah kerutan penuaan

 

Kerja otot dikendalikan oleh perintah serabut saraf. Pada setiap perhubungan serabut saraf dan otot gerak yang dikendalikannya, ujung-ujung serabut saraf secara berkala melepaskan sejumlah penghantar sinyal / impuls yang disebut neurotransmitter ke serat-serat otot yang dibawah kendalinya. Substansi dari neurotransmitter tersebut adalah Acethylcholine. Adanya pelepasan neurotransmitter dari saraf ke otot gerak akan memberi perintah otot untuk berkontraksi/mengerut. Pada alat-alat gerak semisal lengan dan tungkai, kontraksi otot menyebabkan pergerakan aktif. Pada daerah wajah, kontraksi otot akan berimbas mengerutkan kulit yang berada di atasnya sehingga tercipta ekspresi-ekspresi mimik wajah yang bersesuaian.

 

Semakin bertambah usia melampaui 40 tahun, kelenturan dari otot-otot dan kulit wajah semakin berkurang.  Kemampuan otot dan kulit wajah untuk cepat kembali ke bentuk dan posisi istirahat semula dalam suatu proses ekspresi wajah menjadi semakin menurun dan melambat. Lambat laun tampak kerutan-kerutan pada kulit wajah yang menetap di daerah ekspresif (dahi, sudut mata, sudut bibir) meskipun wajah berada dalam kondisi santai dan tanpa ekspresi. Masalah itu menjadi karakteristik keluhan pada proses penuaan (aging process)

 

Saat dilakukan penyuntikkan Botox ke dalam otot-otot mimik wajah tertentu, substansi protein dari Botox akan memenangkan kompetisi melawan Acethylcholine alami dari serabut saraf dalam menduduki (blokade) pusat pengendali gerak otot (muscle receptors) sampai suatu titik masa di mana jumlah Botox di pusat pengendali gerak otot terurai habis secara alamiah. Dengan adanya blokade tersebut, perintah gerak dari serabut saraf menjadi terhambat, dan pada otot-otot yang disuntikkan itu terkondisikan dalam keadaan istirahat / relaksasi. Bila otot-otot wajah dalam kondisi relaks maka kerutan-kerutan kulit di atasnya tidak terjadi.

 

Jumlah Botox yang menghambat kontraksi otot semakin lama semakin menurun karena terurai secara alamiah. Pada saat jumlah Botox yang tersisa pada otot sudah tidak memberikan efek yang signifikan, biasanya setelah 3-4 bulan pascasuntik, perlu dilakukan penyuntikkan ulang.

 

Penghilangan kerutan penuaan dengan injeksi Botox sifatnya tidak permanen dan perlu selalu dilakukan injeksi ulangan setiap 4 bulan. Tidak ada pilihan lain, hanya tindakan operatif yang memungkinkan hilangnya kerutan penuaan secara permanen.

 

 

Efek samping

 

Efek samping BOTOX sangat jarang dan bila pun terjadi maka gejala yang tampak biasanya ringan, berlangsung sementara dan cepat pulih seperti sediakala. Salah satu gejala yang kadang-kadang timbul adalah adanya memar kebiru-biruan samar pada daerah penyuntikan. Hal ini dapat dihindari dengan pengarahan klien yang baik untuk mempersiapkan diri tidak memakai obat-obat pengencer darah (baik obat medis seperti aspirin maupun obat herbal tradisional), obat-obat antiradang non-steroid, vitamin E, serta tidak mengkonsumsi minuman teh hijau setidaknya 1 minggu sebelum prosedur.

 

Efek samping yang juga berpotensi mengagetkan pada klien dengan kondisi otot-otot wajah yang sangat responsif terhadap Botox adalah kondisi “jatuh”-nya (droopy, ptosis) area yang dilakukan injeksi; semisal pada alis mata yang tampak lebih merosot, atau pada sudut mata, atau pada sudut bibir. Namun efek seperti ini hanya terjadi pada 1% kasus, dan akan segera pulih tanpa intervensi apa pun.

 

Pada penggunaan injeksi Botox untuk mengatasi kondisi keringat berlebih, efek yang kadang-kadang timbul adalah rasa lemas pada otot-otot yang disuntikkan. Hal ini perlu diperhatikan untuk klien-klien yang mengeluhkan keringat berlebih pada telapak tangan, terutama untuk mereka yang profesinya berkaitan dengan cengkeraman dan gerak halus jari-jemari (misalnya: atlet tenis, pemain piano).

 

 

Silakan beri komentar/pertanyaan Anda:

Silakan beri komentar/pertanyaan Anda pada kolom di bawah ini. Kami mengharapkan Anda dapat menyertakan alamat e-mail pada kolom Website bilamana Anda membutuhkan jawaban (feedback) kami. Untuk berkirim komentar atau pertanyaan yang lebih panjang / lebih terperinci, dapat dilihat di sini termasuk tata etiket bertanya yang efektif. Terima kasih.


 


 

 

KONSULTASI ESTETIK

dr.Ahmad Fawzy, SpBP

 

KONSULTASI ONLINE

 

Di era teknologi informasi yang memfasilitasi efisiensi waktu dan kemudahan berkomunikasi di mana saja, kami juga menyediakan kesempatan untuk Anda  dapat berkonsultasi online lewat pesan singkat / surat elektronik di sini,

 

 

OPERASI GRATIS

SUMBING BIBIR

 

dr. Ahmad Fawzy, SpBP dan RS Juwita Bekasi menyelenggarakan program operasi gratis untuk pengidap sumbing bibir yang tidak mampu biaya operasi. Syarat dan ketentuan rinci  untuk disertakan dalam program ini dapat Anda lihat di sini, atau silakan hubungi:

 

RS Juwita Bekasi

Jl. M. Hasibuan 78 Bekasi

021 8829590/1 (dengan ibu Evi)